Kamis, 16 Juni 2011

Amar makruf nahi mungkar

Amar makruf nahi mungkar
“Orang-orang yang beramar makruf nahi mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali Imran: 104)
Maksud beruntung disini adalah sukses dan bahagia di dunia dan akherat. Amar makruf nahi mungkar adalah syiar Islam yang terbesar dan merupakan asas Islam serta tugas utama kaum muslimin. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran diantaramu, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya (kekuasaannya). Jika ia tak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.”
“Bukan dari golongan kami orang-orang yang tidak mengasihi yang muda dan tidak menghormati yang tua, serta tidak menyuruh berbuat baik dan melarang yang mungkar.”
“Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaklah engkau beramar makruf nahi mungkar dan mencegah orang yang berbuat zalim, atau jika tidak maka Allah akan menurunkan azab-Nya kepada kamu sekalian.”

Sabda Nabi SAW pula :
“Jika umatku takut berkata kepada yang zalim ‘Ya zalim,’ maka terlepaslah amanat darinya,”
yakni lenyaplah kebaikan umat itu dan dekatlah padanya masa kehancuran.
Sikap berdiam diri karena telah yakin bahwa dakwahnya akan ditolak adalah perbuatan yang keliru. Karena berdakwah adalah hal yang paling utama. Ironisnya jika seseorang itu dicela atau dicuri hartanya meskipun sedikit, maka ia akan marah dan tidak berdiam diri. Hal itu karena ia beranggapan bahwa dunia ini lebih penting daripada agama Allah. Selain itu, mengapa mereka masih saja bergaul dengan orang-orang yang berbuat larangan, padahal mereka beralasan bahwa dakwahnya pasti ditolak. Bukankah Allah telah melarang kita untuk duduk bersama orang-orang yang enggan tunduk kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah SAW pernah menceritakan tentang Bani Israil yang melakukan kemungkaran, lalu para ulama mereka melarang, tetapi tidak diindahkan. Meskipun begitu para ulama tersebut tetap bergaul dengan mereka, yang lalu menyebabkan Allah melaknat mereka semua melalui lisan Nabi-Nabi Allah, Daud AS dan Isa bin Maryam AS. Juga demikian kisah yang terjadi pada ahlul qaryah yang dilarang untuk menangkap ikan pada hari Sabtu, tetapi mereka tetap melakukannya. Maka mereka pecah menjadi 3 golongan :
1.Kelompok yang melanggar larangan Allah dengan tetap menangkap ikan pada hari Sabtu.
2.Kelompok yang patuh pada larangan Allah dengan mencegah kelompok pertama, tetapi tetap bergaul dengan mereka.
3.Kelompok yang patuh dengan mencegah kelompok pertama dan menjauhkan diri dengan mereka.
Allah menurunkan azab kepada mereka dimana kelompok pertama dan kedua pasti terkena, karena keduanya bercampur-baur, meskipun ada diantara mereka yang tidak berbuat larangan. Hanya kelompok yang ketigalah yang selamat.
“Kami selamatkan mereka yang melarang perbuatan buruk, dan Kami timpahkan azab yang pedih kepada orang-orang yang zalim karena mereka selalu berbuat kefasikan.”
“Kami laknat mereka sebagaimana Kami melaknat orang-orang yang melanggar (perintah Allah) pada hari Sabtu.”
Amar makmuf nahi mungkar tidak berarti menyingkap aib orang lain
Nabi SAW bersabda :
“Barangsiapa yang berusaha mengorek rahasia saudaranya, maka Allah pasti akan mengorek rahasianya.”
Kita tidak boleh langsung percaya kepada berita-berita kecuali jika kita melihatnya sendiri bahwa pembawa berita itu adalah orang yang saleh dan dapat dipercaya. Sebab husnudz dzon kepada sesama muslim adalah wajib. Yang diwajibkan kepada kita adalah berbuat baik dan mencegah maksiat jika kita melihat seseorang yang tidak patuh terhadap perintah Allah atau melanggar hukum-Nya.
Bijaksana dan lemah lemut dalam beramar makruf nahi mungkar
Sifat lemah lembut dan kasih sayang adalah jalan utama dalam mengajak orang ke jalan yang benar dan patuh kepada Allah. Sebagaimana maksud hadits Nabi SAW, sifat kasih sayang jika ada dalam suatu perkara niscaya akan mendatangkan kebaikan, dan sebaliknya jika sifat tersebut tidak ada, pasti akan mendatangkan keburukan. Allah berfirman :
“Maka dengan rahmat Allah, engkau dapat bersikap lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar dan berhati keras, tentu mereka akan semakin menjauhkan diri darimu.”(QS. Ali Imran: 159)

Bersatu dan berdakwah
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali agama Allah dan jangan bercerai-berai.” (QS. Ali Imron: 103)
Ayat ini memerintahkan kita untuk menjaga, mempelajari, meluruskan dan bersatu memeluk agama Allah. Ayat ini juga memerintahkan agar jangan sampai kita bercerai-berai, karena jamaah (persatuan) adalah merupakan suatu rahmat, sedangkan bercerai-berai adalah merupakan suatu azab. Pertolongan Allah juga selalu berada diatas jamaah sebagaimana hadits Nabi SAW karena persatuan adalah pokok segala kebaikan dan perbaikan, sedangkan perpecahan adalah sumber segala kejahatan dan mala petaka.
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dulu bermusuhan, maka kemudian Allah menyatukan antara hati-hatimu.” (QS. Ali Imron: 103)
Perintah untuk bersyukur atas nikmat persatuan ketika dulu antara suku Aus dan Khazraj bermusuhan secara khusus dan permusuhan antara Arab dan diluar Arab secara umum. Berkat Rasul dan Al-Qur’an, mereka menjadi satu padu dan hilanglah segala permusuhan karena nikmat Islam.
Sebelum Allah mengutus Rasul-Nya, mereka berada dalam kekufuran sehingga hampir saja mereka berada di dalam neraka, Allah kemudian menyelamatkan mereka dari kemusyrikan dan memerintahkan tauhid serta mempersatukan mereka dengannya, lalu Allah melarang mereka berpecah-belah setelah mereka bersatu.
Selain Allah memerintahkan kita bersatu, Allah juga memerintahkan kita untuk berdakwah dan menyeru manusia kepada jalan-Nya.
“Dan hendaknya ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan.” (QS. Ali Imron: 104)
Maksud umat di ayat tersebut adalah jamaah/golongan yang berdakwah menuju jalan Allah dengan menyeru manusia kepada kebaikan, keimanan dan ketaatan. Orang-orang yang demikian mendapat penghormatan yang setinggi-tingginya di sisi-Nya.
Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa yang menyeru kepada kebaikan, maka baginya balasan yang sama dengan yang diberikan kepada yang mengerjakan/mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa yang sama banyaknya dengan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun.”
“Orang yang menunjukkan kepada kebaikan seperti orang yang melakukan kebaikan itu.”
Oleh karena itu, orang yang berdakwah kepada Allah, maka ia mewarisi pusaka Rasulullah dan mengikuti jalan yang disebutkan Allah dalam firman-Nya :
“Katakanlah : Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikuti aku mengajakmu kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108 )
Tugas Rasulullah SAW adalah menyeru dakwah dengan ucapan dan perbuatan.
“Katakanlah : Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Hanya kepada-Nya aku menyeru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali.” (QS. Ar-Ra’d: 36)
Maka orang yang paling dekat dan utama dengan Rasulullah SAW adalah orang yang memperhatikan tugas dakwah ini. Dalam hadits dikatakan :
“Ulama adalah pewaris para Nabi.”
Orang yang membantu agama Allah, maka ia pun akan dibantu pula oleh Allah.
“Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Allah pun akan menolongmu dan meneguhkan langkah-langkahmu.”
Sebagian ulama salaf menafsirkan tentang meneguhkan langkah-langkahmu, itu terjadi baik di dunia maupun di akherat. Orang yang menunjukkan kebaikan, maka ia akan mendapat 2 pahala, yaitu :
1.Pahala berdakwah
2.Pahala orang yang mengikutinya
Rasulullah SAW pernah suatu kali berkata kepada Sayyidina Ali Bin Abi Thalib :
“Wahai Ali, kamu menunjukkan seseorang kepada petunjuk, itu lebih baik bagimu daripada kamu mendapat unta yang berwarna merah (yang langka dan mahal).”
Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi berkata :
“Dua hal yang bisa menjadikan seseorang itu paling dekat dengan Rasulullah SAW yaitu berdakwah menuju jalan Allah dan bershalawat kepada Nabi SAW.”

Golongan yang selamat
Rasulullah SAW bersabda :
“Kaum Yahudi telah berpecah-belah menjadi 71 golongan. Kaum Nasrani telah berpecah-belah menjadi 72 golongan. Maka umatku juga akan berpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali 1 golongan saja.”
Rasulullah SAW pernah ditanya oleh para sahabat tentang siapakah golongan yang selamat itu. Lalu beliau menjawab :
“Mereka adalah orang-orang yang mengikuti langkahku, dan langkah sahabat-sahabatku.”
Beliau SAW juga berpesan jika terjadi perpecahan maka hendaknya kita berpihak kepada golongan yang terbesar/terbanyak (As-Sawad Al-A’dhom), dan itulah golongan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Merekalah golongan yang selamat karena selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah SAW, ajaran yang dibawa oleh para salafus sholeh (pendahulu yang shaleh) dari para sahabat dan pengikut mereka radhiyallahu anhum (semoga Allah meridhoi mereka).
Alhamdulillah kita sekalian telah mengakui dan meridhoi Allah SWT sebagai Tuhan kita, Islam sebagai agama kita, Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul kita, Al-Qur’an sebagai pedoman kita, Ka’bah sebagai kiblat kita dan Muslimin sebagai saudara kita. Kita percaya terhadap semua Kitab yang diturunkan oleh Allah, para Rasul yang diutus-Nya, qodho dan qodar-Nya yang baik dan yang buruk, dan percaya bahwa kiamat itu pada suatu saat akan tiba. Kita percaya bahwa agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah dari Allah, dan kita mempercayai semua yang telah dibawa oleh beliau SAW. Insya Allah kita hidup dan mati atas dasar itu semua dan akan dibangkitkan bersama orang-orang yang aman, yang tidak takut dan tidak pula sedih. Amin…
Rasulullah SAW bersabda :
“Orang yang merasakan kelezatan iman adalah orang yang ridho bahwa Allah adalah Tuhannya, Islam adalah agamanya, dan Muhammad adalah Nabi-Nya.”
Beliau SAW juga bersabda :
“Barangsiapa yang membaca 3x di pagi hari dan sore hari kalimat
‘radhiitu billahi robban wa bil Islami diinan wa bi Muhammadin nabiyyan’
(aku rela bahwa Allah adalah Tuhanku, Islam adalah agamaku, dan Muhammad adalah Nabiku)
maka ia berhak mendapat keridhoan Allah SWT.”

Hati yang bersih, tegas dan lunak
Sayyidina Ali KW pernah berkata,
“Sesungguhnya bagi Allah di muka bumi ini terdapat suatu bejana, yaitu hati-hati manusia. Sebaik-baiknya hati adalah yang bersih, tegas dan lunak. Maksudnya bersih adalah dalam keyakinan, tegas adalah dalam urusan agama, dan lunak adalah dalam berhubungan dengan kaum muslimin”.
Yang dimaksud yakin disini adalah keteguhan dan penguasaan iman di hati sehingga menimbulkan ketenangan. Sebagaimana permohonan Nabi Ibrahim AS,
“Allah befirman, ‘Apakah kamu percaya?.’ Nabi Ibrahim menjawab, ‘Aku telah percaya, akan tetapi agar bertambah ketetapan hatiku.’ “ (QS. 2:260)
Nyatalah, keyakinan adalah puncak keimanan dan kesudahannya. Di dalam hadits dikatakan,
“Keyakinan adalah iman itu sendiri.”
“Mintalah kepada Allah keyakinan dan kesehatan, karena tidak ada karunia yang lebih utama sesudah keyakinan daripada keselamatan.”
Kemudian yang dimaksud tegas dalam urusan agama adalah berpegang teguh dengannya, bersedia membela, berani berkata benar meskipun pahit, dan tidak gentar untuk mempertahankan yang haqq. Allah SWT memuji pecinta-pecinta-Nya dalam suatu ayat,
“Mereka berjuang di jalan Allah dan mereka tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela.” (QS. 5:54)
Rasulullah SAW memuji Sayyidina Umar ra sebagai seorang yang teguh,
“Orang yang sangat teguh dalam menjalankan perintah Allah adalah Umar. Semua ucapannya adalah kebenaran. Karena itu ia tidak punya teman di antara manusia.”
Sedangkan yang dimaksud berhati lunak dalam pergaulan denga sesama muslim adalah bersifat kasih sayang, dan mencintai mereka. Dengan sifat yang mulia ini, Allah memuji Rasul-Nya,
“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, yang (dia) merasa mulia dengan mengemban penderitaan kalian, yang (dia) sangat menginginkan (berimannya) kalian, yang (dia) amat berbelas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS.9:128 )


Hati yang keras dan lalai
Waspadalah dari hati yang keras (qoswah)!. Yakni kerasnya hati dan membeku sehingga nasihat pun tidak berpengaruh. Jika kematian disebut, ia tak merasa takut atau ngeri, begitu pula jika mendengar janji-janji Allah dan ancaman tentang keadaan akhirat.
Rasulullah SAW bersabda,
“Sesuatu yang paling jauh dari Allah Ta’ala adalah hati yang keras.”
Rasulullah SAW juga bersabda,
“Termasuk dari sesuatu yang celaka adalah 4 perkara : hati yang keras, mata yang beku, cinta dunia dan panjang angan-angan.”
Beliau menambahkan,
“Ketahuilah, Allah tidak akan menerima doa dari hati orang yang lalai.”
Hati yang lalai adalah hati yang tidak sabar dan tidak mau tahu ketika diperingatkan karena keasyikannya bekerja dan bermain dengan keindahan dunia dan hawa nafsu.
Firman Allah SWT,
“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri, penuh rasa takut, tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”  (QS. 205:7)
Allah melarang Rasul-Nya untuk tidak menjadi orang yang lalai, sebagaimana Dia melarang untuk tidak mentaati orang-orang yang lalai atau pun mengikuti jejak mereka.
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya lalai dari mengingat Kami serta memperturutkan hawa nafsunya, dan keadaannya itu melampaui batas.”  (QS. 18:28)
Orang-orang yang dianggap lalai jika :
1.Membaca Al-Qur’an atau mendengarnya tetapi tidak merenungkan maknanya, tidak mengikuti perintah dan larangannya. Begitu pula hadits Rasulullah SAW dan ucapan para Salafus Sholih ra.
2.Tidak mengingat mati dan hal-hal sesudah mati apakah ia tergolong ahlus sa’adah (orang yang bahagia) atau ahlus syaqowah (orang yang celaka), dan tidak memikirkannya.
3.Tidak sering bergaul dengan ulama-ulama yang mengingatkannya tentang agamanya, menyadarkannya tentang kehidupan yang abadi, nikmat-nikmat Allah, janji dan ancaman-Nya.
Jika ia tidak mendapatkan alim ulama, seharusnyalah buku-buku para alim ulama tersebut bisa sebagai pengantinya. Insya Allah tidak akan pernah dunia ini kosong dari dari para alim ulama, meskipun kerusakan jaman telah merata.

“Senantiasa segolongan dari umatku yang berdiri teguh diatas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka siapapun yang menentangnya, hingga tiba ketentuan dari Allah SWT.”
Macam-macam hati
Sebaik-baiknya hati adalah yang bersih suci dari keburukan, yang tunduk kepada yang haaq (kebenaran) dan petunjuk yang diliputi kebaikan. Di dalam Hadits dikatakan,
Hati itu ada 4 macam :
1.Hati yang tidak berselaput, di dalamnya terdapat pelita yang menerangi. Ini hati orang mukmin.
2.Hati yang hitam tak tentu tempatnya. Ini hati orang kafir.
3.Hati yang terbelenggu diatas kulitnya. Ini hati orang munafik.
4.Hati yang mendatar, padanya terdapat iman dan nifaq (kemunafikan).
Perumpamaan iman yang meliputinya seperti batang tumbuhan yang disirami air tawar. Sedangkan perumpamaan nifaq seperti setumpuk kudis yang diselaputi nanah dan darah busuk. Maka yang mana di antara keduanya berkuasa, kesitulah hati tertarik.
Hati yang ke-4 inilah yang terdapat pada kebanyakan kaum muslimin. Amalnya bercampur aduk sehingga keburukannya lebih banyak daripada kesempurnaannya. Dalam Hadits lain dikatakan,
“Sesungguhnya iman itu bermula muncul di dalam hati sebagai sinar putih, lalu membesar, hingga seluruh hati menjadi putih. Sedangkan nifaq itu bermula muncul di dalam hati seperti noda-noda hitam, lalu menyebar, hingga seluruh hati menjadi hitam.”
Sesungguhnya iman akan bertambah dengan cara menambah amal saleh disertai keikhlasan. Sedangkan nifaq akan bertambah dengan cara mengerjakan amal buruk, seperti meninggalkan perkara wajib dan melakukan larangan agama. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,
“Barangsiapa melakukan dosa, maka akan tumbuh dalam hatinya setitik hitam. Jika ia bertobat, maka terkikislah titik hitam itu dari hatinya. Jika ia tidak bertobat, maka menyebarlah titik hitam itu sehingga seluruh hatinya menjadi hitam.”
Hal ini sesuai dengan firman Allah,
“Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang mereka selalu kerjakan itu menutupi hati mereka.” (QS. 83:14)
Seorang manusia tidak akan ditimpa suatu musibah, kecuali karena dosanya sendiri. Sebagaimana dikatakan di dalam Al-Qur’an,
“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatanmu sendiri.” (QS. 42:30)
Maka dari itu, hendaklah kita berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam dosa. Jika pun sudah terlanjur, maka hendaklah bersegera bertaubat. Bukankah dikatakan di dalam Al-Qur’an,
“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 49:11)
“(Dialah) Yang mengampuni dosa dan menerima taubat, Yang pedih siksanya, Yang mempunyai karunia. Tiada tuhan selain Dia dan hanya kepada-Nya-lah tempat kembali.” (QS. 40:3)
“Dan tiada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya.” (QS. 40:13-14)


Mati di dalam Islam
Mengenai ayat “Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam” merupakan perintah Allah agar kita hendaknya mati dalam agama Islam. Karena Allah tidak menerima agama selain Islam, sebab hanya Islamlah agama yang diridhoi-Nya.
“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah adalah Islam. Barangsiapa yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima darinya dan di akherat termasuk orang-orang yang merugi.”
Firman-Nya lagi :
“Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kucukupkan atasmu nikmatku dan telah kuridhoi bagimu Islam sebagai agamamu.”
Lantas jika Allah memerintahkan agar mati di dalam Islam, padahal Dia telah berfirman Engkau tidak mungkin memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allahlah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Bagaimanakah ini?. Sesungguhnya manusia tidak dapat dan tidak mampu membuat dirinya mati di dalam Islam, tetapi Allahlah yang memberikan jalan baginya. Adapun tahapan-tahapan yang seharusnya dilakukan adalah sebagai berikut :
1.Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya
2.Berdoa kepada Allah untuk mewafatkannya dalam agama Islam dan dalam keadaan husnul khotimah
3.Bersyukur kepada Allah atas nikmat Islam
4.Takut mati dalam keadaan suul khotimah
Di dalam Al-Qur’an diceritakan bahwa Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub AS berdoa :
“Kamu (Allah) adalah penguasa di dunia dan akherat, matikanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku bersama orang-orang yang sholeh”
Padahal setiap Nabi adalah maksum dan pasti mati dalam keadaan Islam. Demikian pula diceritakan bahwa para tukang sihir Fir’aun yang bertobat berdoa :
“Ya Allah, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami sebagai muslim.”
Begitu juga wasiat Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ya’qub AS kepada anak-anaknya :
“Wahai anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan kepadamu agama Islam, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.”
Begitulah cara Allah mengajar dan mendidik Nabi-Nabi-Nya dan para sholihin.
Hendaknya manusia berusaha untuk menjaga dan memperkuat keislamannya dan senantiasa taat pada perintah Allah. Barangsiapa yang menggampangkan perintah Allah, dikhawatirkan ia kelak mati suul khotimah. Juga hendaknya ia menjauhi maksiat dan dosa karena hal tersebut melemahkan dan merendahkan keislamannya, membuat goyah asas-asas Islam sehingga tercabut darinya, sebagaimana firman Allah :
“Kemudian akibat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah azab yang pedih karena mereka selalu mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu menolaknya.”
Al-Habib Ali bin Abu Bakar As-Sakron berkata :
“Barangsiapa yang menggampangkan adab (Nabawi) suatu ketika ia akan meninggalkan adab dan menggampangkan sunnah. Barangsiapa yang menggampangkan sunnah, suatu saat ia akan meninggalkan sunnah dan menggampangkan fardhu. Barangsiapa yang menggampangkan fardhu, dikhawatirkan ia akan mati dalam keadaan tidak membawa iman.”
Hendaknya kita terus-menerus berdoa agar mati dalam keadaan husnul khotimah, sebagaimana yang diajarkan :
“Yallah bihaa, yallah bihaa, yallah bi husnil khotimah”
karena syaithon akan berkata :
“Aduh celaka, orang yang memohon husnul khotimah itu telah mematahkan tulang punggungku. Aduh celaka, kapan ia mau membangga-banggakan amalnya?. Aku khawatir ia mengetahui tipu dayaku.”


Meluruskan hati
Hendaknya kita menaruh perhatian yang lebih kepada hati dan batin kita. Rasulullah SAW berkata,
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan amal-amal kalian, tapi sesungguhnya Allah melihat kepada hati dan niat-niat kalian.”
Karena itu hendaknya kita menyatukan amal dengan hati, ucapan dengan amal, membenarkan niat dan keikhlasan, membersihkan batin dan meluruskan hati. Karena hal tersebut adalah sumber segala perkara.
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”
Hal tersebut dikarenakan hati itu mudah berubah dan senantiasa goncang, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya hati itu lebih cepat berbolak-balik daripada makanan yang sedang mendidih dalam periuk.”
Maka dari itu, beliau SAW sering berdoa,
“Wahai (Tuhan) Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”
Beliau SAW juga bersabda,
“Sesungguhnya hati itu terletak antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman. Jika Dia berkehendak, diluruskannya, atau jika Dia berkehendak (yang lain), dibengkokkannya.”
Nabi SAW sendiri sering bersumpah dengan mengatakan,
“Tidak, demi Tuhan Yang Maha membolak-balikkan hati…”
Allah SWT menceritakan tentang Nabi Ibrahim AS,
“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, pada hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. 26:87-89)
Oleh karena itu, perbanyaklah membaca doa,
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau memberikan kami hidayah, dan limpahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pemberi.” (QS. 3:8)


Takut mati suul khatimah

Hendaknya kita banyak memuji dan bersyukur atas nikmat Islam karena itu adalah sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya nikmat yang ada. Sekiranya Allah memberi dunia seisinya kepada seseorang tanpa memberi Islam maka itu hanya menjadi bencana baginya dan tempatnya di neraka. Sebaliknya jika Allah mengkaruniakannya Islam tanpa memberi dunia maka hal itu tidak membahayakannya dan jika ia mati dalam Islam maka tempatnya adalah di surga.

Kita juga harus selalu merasa cemas dan takut akan suul khotimah karena tidak ada jaminan Allah untuk tidak akan merubah hati kita. Dialah yang memberi petunjuk dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Dalam hadits shahih Rasulullah SAW bersabda,

“Demi dzat yang tiada Tuhan selain-Nya, sungguh salah seorang diantara kamu beramal dengan amal ahli surga sehingga jarak antara dia dan surga tinggal sehasta saja, lalu kitabnya mendahuluinya dan iapun beramal dengan amalan ahli neraka, maka masuklah ia ke dalam neraka. Demikian juga sesungguhnya ada diantara kamu beramal dengan amal ahli neraka sehingga jarak antara dia dan neraka tinggal sehasta saja, lalu kitabnya mendahuluinya dan iapun beramal dengan amalan ahli surga, maka masuklah ia ke dalam surga.”

Hadits diatas telah merisaukan ahli takwa dan orang-orang yang lurus jalannya, maka bagaimana seharusnya sikap orang yang sering alpa dan keliru dalam urusan agamanya?

Sebagian salaf berkata,

“Demi Allah, tiada seorangpun akan selamat dari agamanya. Jika ia diselewengkan oleh Allah, niscaya ia akan terseleweng. Oleh karena itu mereka senantiasa hidup dalam kebimbangan kalau-kalau mereka diwafatkan dalam keadaan suul khotimah meski amal mereka banyak dan dosa mereka amat sedikit”.

Setengah dari mereka berkata,

“Sekiranya aku diberi pilihan antara mati dalam Islam di pintu kamar dengan mati syahid di pintu rumah niscaya aku pilih mati dalam Islam di pintu kamar, karena aku tidak tahu apa yang terlintas di hatiku antara pintu kamar dan pintu rumah.”

Seorang sholeh berkata kepada temannya,

“Jika telah tiba ajalku kelak, hendaknya kamu duduk disamping kepalaku dan perhatikan apakah aku mati dalam Islam atau tidak. Jika engkau dapati aku mati dalam Islam, maka ambillah segala harta peninggalanku dan juallah, lalu belikan gula-gula dan buah badam, kemudian bagikanlah kepada anak-anak. Jika aku mati dalam keadaan tidak Islam, maka beritahukanlah kepada orang banyak matiku sebelum menshalati jenazahku, agar mereka mengetahui keadaan matiku sebelum menshalatinya.”

Menjelang meninggalnya, rekannya berkata, “Aku telah mendapatinya mati dalam Islam.” Maka ia pun bersedekah kepada anak-anak.

Kebanyakan orang-orang yang mati suul khotimah disebabkan karena ia mengabaikan shalat fardhu, zakat, suka memecah-belah kaum muslimin, suka mengurangi takaran dan timbangan, suka menipu kaum muslimin, menyusahkan dan mengelincirkan mereka, suka mengaku-ngaku sebagai wali Allah atau juga mengingkari para wali-Nya, dan melakukan perkara-perkara yang keji lainnya. Selain itu mereka adalah para ahli bid’ah dalam agama, yang menanamkan rasa ragu-ragu kepada Allah dan Rasul-Nya serta keberadaan hari akhir. Dan tiada terlindung dari semua itu kecuali orang-orang yang dirahmati Allah. Doa Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad,

“Ya Allah, Wahai Yang Maha Mengasihi orang-orang pengasih, kami mohon kepada-Mu dengan cahaya-Mu yang pengasih utnuk mematikan kami sebagai orang-orang muslim dan mengumpulkan kami ke dalam golongan orang-orang sholeh dengan selamat, wahai Tuhan semesta alam.”

Amin…


Takwa

Dalam suatu ayat-Nya Allah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya dan jangan sekali-kali kamu mati kecuali mati dalam keadaan beragama Islam.”Isi ayat ini merupakan perintah Allah SWT kepada hamba-Nya yang mukmin agar bertakwa. Takwa juga merupakan perintah bagi orang-orang yang terdahulu,

“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu dan juga kepadamu agar bertakwa kepada Allah.”

Takwa merupakan kunci dan sebab yang mengantarkan kita kepada segala kebaikan dunia dan akherat serta lahir dan batin. Takwa merupakan dinding kokoh dan benteng teguh yang menyelamatkan kita dari segala keburukan.

Manfaat takwa :
1. Keikutsertaan Allah dalam memelihara kita
“Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

2. Diberi ilmu ladunni (ilmu pemberian langsung dari Allah)
“Bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajarimu.”

3. Diberi furqon (pembeda antara yang hak dan yang batil)
“Wahai orang-orang yang beriman, jika engkau bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan kepadamu furqon, menghapuskan kesalahanmu dan mengampunimu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

4. Selamat dari api neraka
“Dan tak seorang pun diantaramu kecuali mendatangi neraka. Hal itu bagi Tuhanmu adalah perkara yang sudah ditetapkan. Kemudian akan selamatkan orang-orang yang bertakwa.”
 “Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka. Mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.”
Sebagaimana telah diketahui bahwa tak seorang pun yang dapat menahan pedihnya siksa Allah dan api neraka. Bahkan begitu dahsyatnya, sampai-sampai seluruh Nabi menangis ketakutan dan berdoa,
“Wahai Tuhanku! Diriku, diriku. Wahai Tuhanku, selamatkanlah aku, selamatkanlah aku.”
Kecuali junjungan kita Nabi Muhammad SAW berkata,
 “Wahai Tuhanku! Umatku umatku.”
Jembatan (as-shirath) adalah jembatan yang amat tipis, bahkan lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Dibawahnya terdapat api neraka yang menganga. Panjangnya 500 tahun mendaki, 500 tahun mendatar dan 500 tahun menurun. Tidak ada yang menyelamatkan kita darinya kecuali dengan takwa.

5. Dikeluarkan dari segala kesempitan, mendapat rejeki melimpah dari arah tak terduga-duga, dimudahkan segala perkaranya dan mendapat pahala yang besar.
 “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan memberi jalan keluar dan memberi rejeki dari arah yang tak terduga-duga.”
 “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan kemudahan bagi segala urusannya.”
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipat-gandakan pahala baginya.”

6. Dijanjikan surga
“Itulah surga yang diwariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.”
“Perumpamaan surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa…”
“Dan (dihari itu) didekatkan surga kepada orang-orang yang bertakwa.”
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Tuhan mereka adalah surga yang penuh kenikmatan.”
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa di dalam taman-taman, sungai-sungai dan di suatu tempat yang disukai disi Tuhan yang Maha Kuasa.”

7. Mulia di dunia dan akherat
“Sesungguhnya orang yang mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
Allah mewujudkan kemuliaan seseorang pada ketakwaannya, bukan pada keturunan, harta dan selainnya. Bahkan dengan takwalah semua hal kebaikan dapat diraih.

Disebutkan di dalam suatu syair,
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka ia mendapat keuntungan yang berlimpah ruah.”
Di syair lain dikatakan,
“Barangsiapa yang mengetahui Allah tapi tidak mengisinya dengan ma’rifah, itulah orang yang celaka.
Tiada kemudhorotan dalam taat, segala bencana dalam ketaatan dapat dicegah.
Tidaklah seorang hamba mulia dengan kekayaannya, karena kemuliaan hakiki untuk orang yang bertakwa.”

Wasiat ulama tentang takwa
Takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya secara lahir dan batin seraya merasakan keagungan Allah, kewibawaan, ketakutan dan rasa cemas terhadap-Nya.

Sebagian para mufasir dalam mengartikan firman Allah “Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa” berkata, “Allah SWT harus ditaati dan tidak boleh dimaksiati, harus diingat dan tidak boleh dilupakan, harus disyukuri dan tidak boleh dikufuri.” Karena pada dasarnya manusia tidak akan mampu untuk benar-benar takwa kepada Allah meskipun dia mempunyai 1 juta jiwa, 1 juta umur dan menafkahkan hartanya untuk mentaati Allah dan mencintai-Nya. Hal itu karena Allah mempunyai hak yang amat besar atas hamba-hamba-Nya dan juga lantaran hebatnya kebesaran dan kemuliaan kedudukan-Nya yang tinggi.

Rasulullah SAW sendiri sebagai orang yang paling sempurna dalam menunaikan hak-hak Allah berkata dalam doanya, “Aku berlindung dengan ridho-Mu dari murka-Mu. Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari pembalasan-Mu. Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Aku tak sanggup menghitung pujian atas-Mu sebagaimana Engkau memuji atas Dzat-Mu sendiri.”

Allah SWT menciptakan malaikat-malaikat yang sejak diciptakan selalu ruku’ dan sujud kepada Allah dan selalu bertasbih dan bertaqdis, tak kenal lelah dan tak disibukkan oleh selain-Nya. Lalu kelak di hari kiamat mereka berkata, “Maha suci Engkau. Bagi-Mu segala puji. Kami tidak mengenal-Mu sebenar-benarnya pengenalan dan Kami tidak menyembah-Mu sebenar-benarnya ibadah kepada-Mu.”

Sebagian ulama berkata, “Ayat ‘Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa’ terganti dengan ayat ‘Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan yang ada padamu.’ ” Sebagian lagi berkata, “Ayat kedua adalah menerangkan ayat pertama dan bukan sebagai pengganti.” Pendapat kedua inilah yang insya Allah benar, karena Allah Ta’ala tidak memberatkan seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Allah berhak memerintah apa saja yang Dia kehendaki, namun Dia selalu meringankan dan memudahkan.

“Allah hendak memberi keringanan kepadamu dan manusia itu diciptakan bersifat lemah.” (QS. 4:28)

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. 2:185)

Imam Ghozali menerangkan dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin :

Ketika turun ayat “Hanya bagi Allah-lah apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Jika menampakkan apa yang ada di hatimu atau kamu menyembunyikannya maka pasti Allah akan menghisabnya”, para sahabat merasa gelisah. Lalu mereka datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Kami telah dibebani sesuatu yang kami tidak mampu menanggungnya.” Mereka berpahaman bahwa Allah akan membalas dan menghisab mereka baik yang mereka lakukan ataupun yang masih terlintas dalam hati. Rasulullah SAW berkata, “Apakah kalian hendak berkata sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Israil ‘Kami dengar, tapi tidak patuh?’. Jangan begitu !. Katakanlah ‘Kami dengar dan kami patuh, kami mohon ampunan-Mu wahai Tuhan, kepada-Mu lah kami akan kembali.’ ” Lalu para sahabat memahaminya. Allah lantas menurunkan ayat-Nya :

“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan padanya dari Tuhannya dan begitu juga orang-orang yang beriman.” (QS. 2:285)

Allah memberitakan bahwa oleh sebab doa orang-orang yang beriman itu, Allah tidak akan memberatkan sesuatu yang mereka tidak sanggup memikulnya, yang dibuat karena salah tidak sengaja atau lupa. Sesungguhnya Allah mengabulkan doa para sahabat dengan meringankan dan memudahkan serta mengangkat beban yang merisaukan mereka. Karena itu, kita wajib bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla. Hal ini sesuai dengan hadits :

“Dimaafkan atas umatku kekhilafan, lupa atau perbuatan yang terpaksa dilakukan, dan juga apa yang terlintas di hati selagi mereka tidak mengatakan atau mengamalkan.”
http://img402.imageshack.us/img402/1663/commentsfb.png

Tidak ada komentar:

Posting Komentar